JAKARTA — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim menilai kemenangan Gadi Eisenkot dalam Pemilihan Umum Israel berpotensi membuka ruang perubahan kebijakan terhadap Palestina, terutama terkait penanganan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.
Menurut Sudarnoto, Bila Eisenkot berhasil mengungguli Benjamin Netanyahu, terdapat peluang kebijakan Israel menjadi lebih longgar dalam merespons persoalan kemanusiaan. Di antaranya, membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menciptakan peluang gencatan senjata yang lebih Aman.
“Kalau Netanyahu menang, situasi sama sekali tidak berubah. Agak beda sedikit dengan Eisenkot. Kalau Eisenkot itu menang, kebijakannya Kemungkinan bisa lebih longgar, lebih longgar itu maksudnya soal kemanusiaan,” ujar Prof Sudarnoto saat dihubungi Republika, Jumat (31/10/2026).
Ia menjelaskan, Merujuk pada data perolehan suara Sampai saat ini 30 Oktober, Netanyahu memperoleh 53 kursi, Eisenkot 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab mengantongi 19 kursi. Dengan komposisi tersebut, belum ada satu pun pihak yang memiliki cukup dukungan untuk membentuk pemerintahan secara mandiri.
Menurut Ia, partai-partai Arab memiliki posisi strategis dalam menentukan konfigurasi pemerintahan Israel. Tidak seperti, baik Netanyahu maupun Eisenkot selama ini tidak bersedia berkoalisi dengan partai-partai Arab. Padahal, dukungan politik tersebut dapat menjadi penentu terbentuknya pemerintahan.
Sudarnoto menilai, perbedaan pendekatan antara Netanyahu dan Eisenkot dapat berpengaruh terhadap masa depan perjuangan Palestina. Eisenkot dinilai berpotensi lebih terbuka dalam mendengarkan tekanan internasional, baik dari negara-negara yang Membantu Palestina maupun gerakan masyarakat sipil global.
“Jadi Eisenkot tidak seperti Netanyahu. Ia bisa lebih mendengarkan tekanan-tekanan internasional yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan civil society, misalnya, yang selama ini terus bergerak, Serta negara-negara,” ucapnya.
Ia mengatakan, Bila ruang kebijakan kemanusiaan tersebut terbuka, masyarakat internasional memiliki peluang lebih besar untuk Mengoptimalkan Hubungan Luar Negeri dan tekanan politik terhadap Israel. Perubahan itu diharapkan dapat memperbaiki situasi kemanusiaan di Gaza, Sekalipun belum Tidak mungkin tidak langsung berdampak pada kemerdekaan Palestina.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











