Tentara AS Dilatih Trik Menggali Kuburan Massal di Tengah Rencana Serangan Terbaru ke Iran


WASHINGTON — Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) dilaporkan Newsweek, dilatih menggali kuburan massal untuk prajurit yang terbunuh dalam Konflik Bersenjata untuk mempersiapkan kemungkinan jatuhnya korban tewas dalam jumlah besar Bila Konflik Bersenjata kembali pecah dalam masa mendatang. Latihan menggali kuburan massal ini menjadi yang pertama sejak pecahnya Konflik Bersenjata Korea pada 1950-1953.

Laporan soal latihan menggali kuburan massal ini muncul di tengah kembali meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran, di mana jumlah korban jiwa akibat Konflik Bersenjata ini Bahkan masih dipertanyakan Sampai sekarang Sekarang. Bulan lalu, The Washington Post melaporkan setidaknya 22 personel militer AS tewas, lebih empat orang dari jumlah yang dirilis oleh Pentagon.

The Washington Post mengatakan, beberapa kasus kematian tidak disebabkan langsung oleh Konflik Bersenjata Iran Justru lantaran keterlibatan personel AS yang ditempatkan di Timur Tengah. Menteri Lini pertahanan AS Pete Hegseth, membantah laporan The Washington Post.

Adapun laporan Newsweek pada Kamis (29/10/2026), mengungkap bahwa latihan menggali kuburan massal diberi nama Operasi Perjanjian Naga Fase II, yang dimulai pada bulan lalu dan digelar di Fort Bragg, Karolina Utara. Operasi itu melibatkan prajuirt dari Komando Korps Berkelanjutan ke-3 dan Brigade Sipil ke-20, bersama dengan personel pendukung keagamaan.

Menggunakan buldoser, ekskavator, dan alat berat lainnya, mereka berlatih membuat pemakaman sementara dan menangani jasad prajurit yang tewas terbunuh dalam Konflik Bersenjata skala-besar. Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Darat AS mengatakan pihaknya tidak pernah melaksanakan latihan penggalian kuburan massal sejak Konflik Bersenjata Korea, di mana saat itu 36.515 personel AS tewas atau hilang dan 7.245 lainnya ditangkap.

Selama Konflik Bersenjata Irak dan Afghanistan selama hampir 25 tahun terakhir, jasad dari personel Amerika yang tewas dalam tugas langsung segera dikirim kembali ke AS, tanpa Dianjurkan adanya penggalian makam yang luas. Latihan Di waktu ini ditujukan untuk mempersiapkan militer menghadapi situasi di mana jumlah korban jiwa sangat banyak Sampai sekarang rekan mereka tidak bisa menguburkan prajurit yang tewas secara terpisah atau melaksanakan prosesi keagaman terkait pemakaman.

Mengikuti standar pengaturan Angkatan Darat AS, sebuah kompleks sementara pemakaman terdiri dari lima parit dengan luasan yang cukup untuk mengubur 100 jasad sekaligus. Selama latihan di Karolina Utara, para prajurit menggunakan alat-alat berat untuk mempersiapkan setiap plot pemakaman dalam target waktu pengerjaan 1 jam 15 menit.

Menurut Angkatan Darat AS, delapan buldoser dan empat eskavator bisa Membantu pemakaman 2.400 prajurit dalam 24 jam. Latihan Bahkan fokus dalam mempertahankan keutuhan jasad sehingga mereka bisa diidentifikasi dan Pada Akhirnya dikembalikan ke AS.

Sersan Satu Delbert Ruede dari Komando Korps Berkelanjutan ke-3 kepada Newsweek mengatakan, bahwa latihan itu Membantu militer untuk mengasesmen bagaiama mengubur dan menghargai para prajurit yang tewas dalam Konflik Bersenjata. Ruede mengatakan, latihan itu ditujukan untuk mengganti sebuah respons yang diimprovisasi pada peristiwa Konflik Bersenjata dengan sebuah sistematis, pendekatan yang Berkualitas di lapangan untuk menangani mereka yang tewas.

 


Loading…



Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA