Jakarta, CNN Indonesia —
Perdana Menteri (PM) Malaysia, Anwar Ibrahim mengungkapkan keprihatinannya terhadap aksi Kepala Negara Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang melancarkan operasi militer dengan menangkap Kepala Negara Venezuela Nicolàs Maduro.
Lewat unggahan di akun Instagram resminya, Anwar menyebut tindakan AS Pernah terjadi melanggar hukum internasional dan kedaulatan sebuah negara.
“Tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan merupakan penggunaan kekuatan yang melanggar hukum terhadap negara berdaulat,” tulis Anwar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meminta Supaya bisa Maduro dan istrinya yang ikut ditangkap dalam operasi tersebut, Supaya bisa segera dibebaskan.
Menurut Anwar, tindakan AS Berencana menjadi preseden yang berbahaya. Ia menyebut tindakan AS Berencana mengikis batas penggunaan kekuasaan antar negara dan melemahkan kerangka hukum yang mendasari tatanan internasional.
“Apa pun Penjelasannya, pemecatan paksa kepala pemerintahan yang Pada Saat ini Bahkan sedang menjabat melalui tindakan eksternal menciptakan preseden yang berbahaya,” katanya.
Anwar mengatakan rakyat Venezuela berhak menentukan masa depan politik mereka sendiri. Dalam sejarah, perubahan kepemimpinan yang disebabkan kekuatan eksternal Berencana membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat.
“Malaysia menganggap penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan sebagai hal Yang utama untuk hubungan damai antar negara,” kata Anwar.
“Keterlibatan konstruktif, dialog, dan de-eskalasi tetap menjadi jalan yang paling kredibel Ke arah hasil yang melindungi warga sipil dan memungkinkan warga Venezuela untuk mengejar aspirasi sah mereka tanpa bahaya lebih lanjut,” imbuhnya.
Maduro dan istrinya ditangkap oleh pasukan khusus AS dalam sebuah serangan sebelum fajar pada hari Sabtu (3/1). Serangan itu Bahkan disertai serangan udara ke Sebanyaknya Tempat di dalam dan sekitar ibu kota Venezuela, Caracas.
Setelah ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat, Maduro dan istrinya diterbangkan dengan helikopter ke New York. Di sana, mereka Berencana menghadapi tuduhan terkait perdagangan Narkotika dan senjata.
(thr/ugo)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











