Menkomdigi Ingatkan Transformasi Digital Harus Keterampilan Inklusif


Jakarta, CNN Indonesia

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa tanpa kebijakan pengembangan keterampilan yang inklusif, perubahan dunia kerja yang terjadi dalam transformasi teknologi berisiko memperlebar ketimpangan sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi Jobs Crisis or Jobs Opportunity? Skills for Indonesia’s 2030 Workforce di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) 2026, Davos. Menurut Meutya, tantangan utama dunia kerja Di waktu ini Bahkan bukan sekadar hilangnya pekerjaan, melainkan kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki tenaga kerja dan kebutuhan ekonomi masa depan.

“Pekerjaan tidak Sungguh-sungguh hilang. Yang berubah Merupakan keterampilan. Bila negara gagal menyiapkan warganya secara merata, transformasi teknologi justru Akan segera meninggalkan banyak orang di belakang,” ujar Meutya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meutya kemudian mengutip laporan Future of Jobs Report World Economic Forum yang memproyeksikan terciptanya sekitar 170 juta pekerjaan baru secara global Sampai saat ini 2030, meski 92 juta peran lama Akan segera tergeser. Perubahan ini menuntut proses reskilling dan upskilling dalam skala besar Supaya bisa peluang kerja baru tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Sebagai negara demokrasi besar dengan lebih dari 230 juta pengguna internet dan populasi muda yang dominan, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan transformasi digital.





Meutya menegaskan, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan Bila Penanaman Modal keterampilan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Generasi muda, perempuan, pekerja sektor informal, dan kelompok dengan akses terbatas Harus menjadi bagian dari agenda keterampilan nasional. Inklusi bukan tambahan, tetapi syarat utama Supaya bisa transformasi digital menghasilkan keadilan sosial,” katanya.

Menkomdigi menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia memprioritaskan pengembangan keterampilan digital, pembelajaran sepanjang hayat, serta kebijakan yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Pendekatan ini diarahkan untuk memastikan kemajuan teknologi Memanfaatkan mobilitas sosial dan Memanfaatkan daya saing nasional, bukan menciptakan jurang baru di masyarakat.

“Keterampilan digital Harus berjalan seiring dengan kemampuan manusia seperti berpikir kritis, adaptasi, dan kolaborasi. Di situlah masa depan kerja ditentukan,” kata Meutya.

Menutup pernyataannya, Meutya menyatakan bahwa dekade ini Akan segera menjadi periode penentu bagi arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Pilihan kebijakan hari ini Akan segera menentukan apakah transformasi digital menjadi jalan naik kelas bersama, atau justru memperlebar ketimpangan. Indonesia memilih menyiapkan seluruh warganya Supaya bisa siap menghadapi perubahan,” ujar Meutya.

Sesi diskusi ini turut menghadirkan Founder dan CEO AI Academy Asia Bolor Erdene Battsengel serta CEO dan Co-Founder Teach For All Wendy Kopp. Diskusi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan sektor pendidikan untuk membangun ekosistem keterampilan yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

(rea/rir)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA