Jakarta, CNN Indonesia —
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut bencana ekologis yang melanda Sebanyaknya wilayah di Sumatra disebut bukan peristiwa tunggal. Bencana serupa Bahkan disebut berpotensi terjadi di Pulau Jawa Sampai sekarang Kalimantan.
Menurut Walhi, Bila pola pembangunan nasional tidak berubah, pulau lain seperti Jawa Sampai sekarang Kalimantan berpotensi menjadi korban berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pada satu titik, Sumatra menjadi satu penanda, satu pengingat, satu alarm. Bencana ini bukan lagi semacam hal yang jarang atau hal yang semacam Berkelas begitu. Tapi bencana ini Merupakan bagian dari rutinitas kita Hari Ini,” kata Wahyu Eka Setyawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Eksekutif Nasional Walhi dalam acara perilisan Tinjauan Lingkungan Hidup Walhi 2026, Jakarta, Rabu (28/1).
Wahyu mengatakan bencana lingkungan Pada saat ini bukan lagi kejadian Berkelas, melainkan Pernah terjadi menjadi bagian dari rutinitas akibat tata kelola sumber daya alam yang bermasalah.
Wahyu mencontohkan Bencana Banjir rob yang terus menghantui kawasan pesisir utara Jawa, mulai dari Cilincing di Jakarta, Pemalang, Timbulsloko Demak, Sampai sekarang Perak Surabaya. Kejadian Berkelas serupa bahkan Pernah terjadi merambah Banyuwangi, Jatim tepatnya di Pantai Muncar.
Menurutnya, kondisi ini Bahkan terjadi di Babel, Kepri, Natuna, Sampai sekarang pulau-pulau kecil lain di Indonesia.
Ia menilai akar persoalan bencana ekologis berasal dari kebijakan pembangunan yang berorientasi pada Peningkatan Ekonomi tinggi. Target Peningkatan Ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah dinilai mendorong eksploitasi ruang dan sumber daya alam secara masif.
Pertumbuhan ini, katanya, diterjemahkan ke dalam dokumen perencanaan seperti RPJPN, RPJMN, dan RKP dengan rumus yang sama, Dikenal sebagai pembangunan besar-besaran dan kebijakan pembukaan Penanaman Modal seluas-luasnya.
“Kebijakan yang membuka persoalan tata ruang Supaya bisa semua tempat bisa diberikan izin,” katanya
Kebijakan tersebut, kata Wahyu, tercermin dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang membuka ruang perizinan di hampir seluruh wilayah, termasuk kawasan hutan dan ekosistem penting. Dampaknya, banyak izin tumpang tindih dan masyarakat tersingkir dari ruang hidupnya.
Menurutnya, pemerintah daerah Pada saat ini kehilangan kewenangan substantif dalam mengatur tata ruang. Akibatnya, ketika bencana terjadi, daerah tidak memiliki ruang untuk mengoreksi kebijakan yang Pernah terjadi terlanjur disahkan.
Lebih lanjut, Walhi menilai ancaman bencana ekologis tidak berhenti di Sumatra. Pulau Jawa diproyeksikan menjadi pusat megapolitan dan koridor Keadaan Ekonomi Negara, yang berisiko memperparah tekanan terhadap lingkungan.
Sementara itu, Kalimantan diposisikan sebagai jantung ekonomi baru melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Bergeser ke Sulawesi, wilayah tersebut ditetapkan sebagai pusat energi hijau, yang Bahkan rumah dari industri nikel.
“Sementara untuk NTT, NTB, dan Bali itu direncanakan Akan segera ada model ekstraksi baru Dikenal sebagai pariwisata. Di Bali Bahkan tengah dibuka ruang masif terkait dengan wisata yang memang rencananya Merupakan melakukan ekstraksi ekonomi, mengejar pertumbuhan dengan industri wisata,” terang Wahyu.
Di ujung timur Indonesia, Wahyu menyebut Papua menjadi yang paling parah. Selain mengalami penindasan yang cukup panjang baik isu HAM maupun Bahkan terkait dengan masalah ketidakadilan penguasaan hutan serta ketidakadilan ekonomi dengan adanya situs Freeport, ia mengatakan wilayah ini bakal dibuka dengan dalih Food Estate dan energi.
Sawit bahkan disebutnya Sebelumnya merajalela di Sebanyaknya sudut pulau tersebut.
“Dari keseluruhan yang saya ceritakan tadi itu terjadi di sepanjang 2024-2025 yang memang menjadi penentu ketika bagaimana bencana ini hadir,” ujarnya.
“Teman-teman bisa browsing, di Papua ini Bahkan pernah terjadi Bencana Banjir besar begitu dan tinggal nunggu waktu. Ini yang menjadi penting bahwasanya ada harga mahal yang Dianjurkan dibayar dari pertumbuhan,” tambahnya.
(lom/dmi)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











