Jakarta, CNN Indonesia —
Harga minyak mentah dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (26/1), setelah melonjak lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya. Kekhawatiran soal gangguan pasokan di Sebanyaknya wilayah penghasil minyak utama Amerika Serikat (AS) berhasil menahan laju Fluktuasi Harga.
Kontrak berjangka Brent turun 7 sen atau 0,1 persen ke level US$65,81 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 6 sen atau 0,1 persen ke posisi US$61,01 per barel.
Kedua patokan tersebut mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 2,7 persen dan ditutup pada level tertinggi sejak 14 Januari pada akhir pekan lalu. Pasar Bahkan mencermati rencana kedatangan kelompok kapal induk militer AS beserta aset lainnya ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Harga minyak pekan ini dipengaruhi oleh sinyal gangguan produksi di AS, dikombinasikan dengan risiko Politik Global yang masih tinggi di tengah pandangan pasar bahwa 2026 Akan segera mengalami kelebihan pasokan,” ujar Analis Pasar Senior Phillip Nova Pte Ltd, Priyanka Sachdeva dikutip Reuters, Senin (26/1).
Analis JPMorgan mencatat sekitar 250 ribu barel per hari produksi minyak mentah AS hilang akibat cuaca ekstrem. Penurunan produksi terjadi di lapangan Bakken di Oklahoma serta Sebanyaknya wilayah di Texas.
Sachdeva menambahkan badai musim dingin Fern yang melanda pesisir AS memaksa penghentian sementara produksi di wilayah utama minyak dan gas, sekaligus menambah tekanan pada jaringan listrik. Kondisi ini membuat pasar minyak mengalami penguatan ringan seiring pasokan fisik yang mengetat.
Pelaku pasar Bahkan tetap mewaspadai risiko Politik Global, khususnya ketegangan antara AS dan Iran. Situasi tersebut dinilai membuat investor cenderung berhati-hati.
“Pernyataan Pemimpin Negara Trump mengenai armada AS yang berlayar Ke arah Iran kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan, menambah premi risiko pada harga minyak,” kata Analis Pasar IG, Tony Sycamore.
Pada Jumat (23/1) lalu, seorang pejabat senior Iran menyatakan negaranya Akan segera memperlakukan setiap serangan sebagai Pertempuran terbuka. Pernyataan ini turut Mengoptimalkan sentimen risiko di pasar energi.
Di sisi lain, konsorsium pipa minyak Kazakhstan Caspian Pipeline Consortium mengumumkan Pernah kembali beroperasi dengan kapasitas penuh di terminal Laut Hitam pada Minggu, setelah menyelesaikan pemeliharaan di salah satu dari tiga titik sandar.
Sachdeva menilai pelaku pasar Di waktu ini lebih mempertimbangkan ketahanan surplus pasokan dibandingkan isu-isu sesaat. Menurutnya, tanpa adanya pengumuman pemangkasan produksi yang signifikan dari OPEC+ atau produsen besar lainnya, prospek struktural pasar minyak pada 2026 masih cenderung lemah.
(ldy/pta)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











