Selama ini, orang awam mengenai tanda serangan jantung melalui gejala klasik, seperti nyeri dada sebelah kiri yang terasa seperti atau ditimpa beban berat.
Sekalipun demikian, ternyata ada kelompok orang tertentu yang bisa mengalami serangan jantung tanpa menunjukkan gejala khas tersebut. Dalam dunia medis, kelompok ini dikenal sebagai “populasi khusus”.
Praktisi kesehatan, dr Maya Munigar Apandi, SpJP(K) menjelaskan, keluhan yang dirasakan oleh populasi khusus sering kali sangat samar, sehingga kerap mengecoh dan menunda penanganan medis yang tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapa Saja yang Termasuk Populasi Khusus?
dr Maya memaparkan, populasi khusus ini terdiri dari beberapa kelompok individu yang memiliki karakteristik kerentanan sendiri.
“Populasi khusus spesifik itu yang mana? (Di antaranya ialah) usia muda, usia lanjut, usia yang ekstrem (terlalu muda atau terlalu tua), perempuan, dan pasien-pasien yang punya sakit diabetes,” kata dr Maya saat ditemui detikcom, Rabu (26/8/2026).
Pada kelompok ini, sangat jarang ditemukan pasien yang mengeluhkan nyeri dada sebelah kiri secara spesifik. Keluhan mereka cenderung tidak khas (atypical) Manakala dibandingkan dengan populasi pada umumnya.
Gejala “Siluman” yang Kerap Mengecoh
Karena tidak merasakan nyeri dada yang tajam, pasien dari populasi khusus sering kali datang ke rumah sakit dengan keluhan yang terkesan ringan atau tidak berhubungan langsung dengan jantung.
“Kadang datang dengan keluhannya yang lain. Ya bisa dari otot, bisa sesak napas yang tidak terkondisikan. Nggak jelas, pokoknya nggak enak lah dadanya. Ada Bahkan yang cuma keluar keringat dingin. Semua kita periksa bagus, pas kita lihat EKG, wah ini sama aja (serangan jantung),” terangnya.
Kondisi ini menegaskan pentingnya pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG) bagi populasi khusus, Sekalipun demikian gejala yang muncul hanya berupa pegal otot, dada terasa tidak nyaman, atau keringat dingin tanpa sebab yang jelas.
Kombinasi Berbagai Faktor Risiko
Di balik gejala serangan jantung yang tiba-tiba, ada proses panjang berupa pembentukan plak atau kalsifikasi (penumpukan kalsium) yang mengeraskan dinding pembuluh darah.
Menurut dr Maya, Mengikuti data di Indonesia, ada dua Dalang paling signifikan yang merusak pembuluh darah: hipertensi dan merokok.
Kombinasi kedua faktor ini Berencana mempercepat kerusakan arteri koroner secara fatal.
“Hipertensi bikin pembuluh darahnya kaku, tidak fleksibel. Merokok Bahkan sama, bikin kaku, bikin dinding pembuluh darahnya jadi sensitif. Kalau makanannya berlemak dan tinggi gula, tambah berproses Ia, menyebabkan plak atau kalsifikasi,” imbuhnya.
Manakala mengalami gejala samar seperti dada tidak nyaman yang disertai keringat dingin, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, serta mulailah memodifikasi Pola Hidup dengan berhenti merokok dan mengontrol asupan gula serta lemak.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video Mitos-Fakta: Jantung Bocor, Dalang Sampai sekarang Gejalanya“
[Gambas:Video 20detik]
Sumber Refrensi Berita: Detik.com











